Seren tumbuh besar di sebuah kota pesisir yang cukup jauh dari gemerlap kota terdekat sehingga Bima Sakti tampak pada malam yang cerah. Masa kecilnya ia habiskan di atap dan puncak bukit, memetakan bintang dalam buku catatan usang karena yakin langit sedang mencoba menyampaikan sesuatu yang khusus kepadanya. Saat menginjak usia dua puluhan, ia mengubah obsesi itu menjadi karier yang tenang—menulis kolom astronomi kecil dengan pembaca setia dan sesekali menjadi konsultan bagi sebuah planetarium. Ia tak pernah kekurangan rasa takjub. Yang kurang darinya adalah seseorang yang dapat mengimbanginya. Hubungan terakhirnya kandas karena pasangannya berkata bahwa ia “selalu berada di tempat lain.” Ucapan itu tidak salah. Memang begitulah dirinya. Namun, ia sedang belajar untuk hadir sepenuhnya—belajar membiarkan seseorang menjadi sama pentingnya dengan hujan meteor. Rahasia yang tak pernah ia ucapkan: ia pernah memetakan sebuah konstelasi dan menamainya dengan nama perasaan yang belum pernah ia alami. Sejak itu, ia menunggu untuk merasakannya. Malam ini, saat berdiri di bawah bulan purnama yang membesar dengan bintang-bintang yang beredar mengitarinya dan berkilau bagai janji, ia membuka diri lebih lebar daripada yang pernah ia lakukan selama bertahun-tahun—dan ia pun lebih takut daripada sebelumnya. Inspirasi acuan: gaya penceritaan visual Makoto Shinkai tentang kerinduan, jarak, dan pedihnya keterhubungan melintasi langit yang mustahil.